Minggu, 20 November 2011

Biarkan ruh itu abadi slamanya


Ruang-ruang hatiku bertemu pada satu tumpuan. Menjadi rimpunan seni yang siap untuk di jadikan bahan explorasi. Gemerlap awan tak menyurutkan ku untuk tetap menari di atas segala problema. Aku adalah aku. Bukan orang lain.
            Senja itu, aku bersantai ria di teras depan rumah ku. Dengan bertemankan sebuah majalah yang sebenarnya sedari tadi hanya  aku buka-buka saja tanpa aku seriusi isinya. Aku seorang anak gadis yang baru berusia 17 tahun. Ayahku seorang tokoh ternama di lingkungan rumahku. Tepatnya mungkin, sosoknya yang di segani dan di hormati oleh para tetangganya. Aku tinggal bersama orang tuaku, di daerah Kalimantan barat. Selama ini aku bergaul dengan teman-teman sekolah ku. Kerasnya dunia luar sangat aku rasakan, tapi itu semua belum menjadikan pertimbangan dalam diriku untuk berubah menjadi lebih baik.
            Pada suatu kesempatan, kebiasaan dari keluarga ku adalah nobar pada akhir pekan. Sebenarnya jika aku boleh memilih, lebih baik aku tidur saja atau baca buku-buku novelku yang jauh lebih menyenangkan. Padahal kalau di pikir-pikir novel yang aku punya sudah berulang-ulang aku baca. Sampai-sampai aku hafal semua percakapan yang ada di dalamnya. Tapi itu lebih baik dari pada nobar yang terkesan kolot itu. Karena nanti ayah akan mengeluarkan instruksi-instruksi baru yang harus di taati. Membosankan!
            Aku masih tak percaya atas instrument ayah tadi malam. Air mataku tak henti-hentinya membasahi kedua pipiku. Akan banyak sekali kenangan-kenangan yang harus aku tinggalkan. Tentang persahabatan, tentang cinta yang telah mengukir kisah yang sangat indah.
            “Ayah, apa gak bisa kita tetap tinggal disini ?” ucapku  pada ayah suatu hari. “Gak bisa, ini tugas ayah yang sangat penting.” Jawabnya. Aku sangat berharap ada perubahan atas keputusan ayah beberapa waktu yang lalu. “Tapi yah, banyak kenangan yang bakal aku tinggalin disini.” Ucap ku lirih. Mungkin memelas juga.  Ayah menatapku. “Mungkin bagimu kenangan disini sangat berarti, sangat indah. Tapi siapa tahu kenangan disana akan jauh lebih indah atau mungkin menjadi yang terindah untuk perjalanan hidupmu.” Ucap ayah meyakinkanku.
Sejak saat ayah memutuskan akan pindah ke kota bogor, aku selalu merengek pada ayah agar ayah mau merubah keputusannya itu. Dan anehnya ayah juga tidak marah dengan rengekan-rengekanku. Karena biasanya ayah tak pernah mau mendengarkan ocehan-ocehan yang tidak penting dari siapa pun. Termasuk anaknya sendiri. Itulah ayah, beliau hanya bersedia melayani orang yang ingin berkata yang mendatangkan manfaat. Entah ada apa, untuk kali ini ayah tidak marah. Batin ku, mungkin karena ayah juga merasa begitu banyak sekali kenangan yang ada disini.
Ku tatap ruang jalan yang terselimuti kabut. Pikiranku melayang jauh. Kenangan-kenangan itu terlintas bergantian. Kakiku mematung. Seperti sebuah isyarat, aku yang tak di izinkan untuk pergi meninggalkan kenangan yang ku punya. Pagi ini aku harus pergi. Karena ayah telah di tunggu oleh tugas-tugasnya. Sehari sebelum keberangkatan ku ini, aku telah berpamitan dengan sahabat-sahabatku. Dengan orang-orang yang pernah ada di hatiku.
Setelah sampainya aku di rumah baru, aku seperti orang yang hilang arah. Untuk tiap harinya aku menangis. Mengunci diri seorang diri di dalam kamar. Lagi-lagi ayah tak marah dengan sikapku yang seperti ini. Biasanya ayah akan cepat mengeluarkan semua nasihatnya, jika anaknya melakukan suatu kesalahan. Beliau malah kerap kali mengantarkan sarapan atau makan siang dan malam ke kamarku. Sepertinya ayah sangat mengerti apa yang aku rasakan. Apalagi ketika ayah menawarkan sekolah mana yang akan aku tempati nanti, aku malah bilang gak mau sekolah. Tapi ayah tak marah. Maafkan aku yah…
Teringat nasehat-nasehat temanku. “Meski jarak memisahkan, tapi kita tetap teman” ucap salah seorang sahabatku. Dan masih banyak lagi motivasi-motivasi yang mereka berikan pada saat aku mengadukan akan kegelisahan hatiku di rumah baruku. Akhirnya aku  tersenyum kembali pada dunia. Setelah sebelumnya aku melihatnya berwarna kelabu. Ayah dan Ibu sangat bahagia karena aku bisa tersenyum kembali. Melakukan tugas-tugas yang biasa aku lakukan. Dan aku akan bersekolah kembali.
Adaptasi untukku bukan hal yang sulit. Ini adalah untuk pertama kalinya aku pindah ke sekolah baruku. Tak ada yang berkesan. Semuanya seperti waktu dulu aku pertama kali  masuk sekolah.
Di sore itu, teman yang baru saja aku dapat tadi pagi di sekolah, dating ke rumahku. Karena ternyata rumah kami berdekatan. Hanya berjarak 5 rumah dari rumahku. Aku yang sedang asik membaca novel baruku karena pada saat aku sedikit prustasi ibu membelikan aku novel-novel. Katanya sih biar aku gak terlalu bosan. Aku langsung menghampiri dan menjamunya. Setelah aku bertanya karena apa ia ke rumahku, ternyata ia hanya ingin silaturrahim saja. Seperti ada chemistry antara aku dan dia. Awal aku melihatnya sangat aneh, karena pakaian yang ia pakai menurutkku terlalu kolot. Tapi akhlaknya yang akhirnya dengan sendirinya aku nyaman berada di sampingnya. Menjadi teman dekatnya….
Sampai pada suatu saat, aku sedang mengerjakan tugas sekolah di rumah temanku itu. Tak sengaja aku membuka dan membaca buku milliknya yang berjudul “Orang-Orang yang Mendapat Hidayah-Nya.” Ada rasa yang berbeda saat itu. Aku merasakan ketenangan yang begitu amat sangat indah. Sampai-sampai aku menitikan air mata. “Kenapa?” Tanya temanku khawatir melihatku menitikan air mata. “Gak apa-apa.” Jawabku malu. Ia seakan mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya. Ia melihat ada sebuah buku yang sedang aku genggam. “Ooohh…” katanya sambil senyum-senyum. Aku hanya memandanginya. Ia begitu anggun dengan penutup kepalanya. Dengan baju panjangnya dan dengan tutur katanya yang sopan di dengar. Sepertinya aku jatuh cinta dengan akhlaknya.
Latar belakang pergaulanku bebas. Meskipun tidak bebas dalam artian miring. Karena ayah tidak akan diam saja jika anaknya melakukan hal-hal yang menyalahi norma-norma agama. Aku sangat jauh jika di bandingkan dengan temanku yang satu ini. Di sekolah aku mendapat undangan bedah buku oleh rohis yang ada di sekolahku. Dan ternyata belakangan aku baru tahu teman ku itu adalah anggota kerohisan putri. Awalnya aku ragu ingin menghadiri majelis itu, tapi temanku itu memaksa mengajakku ke acara itu. Akhirnya aku datang. Tanpa penutup kepala aku kenakan. Sepertinya aku belum ada fell untuk mengenakannya. Aku benar-benar mendengarkan, menghayati apa yang di sampaikan waktu itu. Kalau gak salah bertemakan “Wanita yang di Rindukan Syurga”
Akhirnya Allah menganugerahkan HidayahNya untukku. Aku memutuskan untuk berjilbab. Keputusan penting yang membutuhkan proses panjang. Keluarga dan teman-teman agak terkejut dengan keputusanku. Apalagi keluargaku, mereka memintaku agar berfikir ulang kembali akan keputusanku. Tapi ini keputusan final ku. Dan takkan berubah lagi. Lambat laun keluargaku mengerti, setelah aku berbicara dengan cara baik-baik kepada mereka.
Tentang seseorang itu…
Ia telah menjadi kekasihku sejak aku pindah ke bogor. Aku sangat menyayanginya. Ketika aku memutuskan untuk berjilbab, posisiku waktu itu aku masih menjalani hubungan dengannya. Dan aku belum mengetahui tentang di larangnya pacaran di dalam islam. Aku masih belum percaya dengan hal itu. Aku bertanya kepada teman-teman rohisku di sekolah dan jawaban mereka memang tidak ada pacaran di dalam islam.
Rasanya berat sekali melepasnya pergi. Namun rasa cintaku pada Rabbku tlah mengalahkan rasa cintaku kepada dirinya. Aku harus pergi… aku berbicara baik-baik dengannya. Tentang semua alasan yang akhirnya aku harus pergi. Ia tak terima dengan keputusanku. Keluargaku pun tidak setuju. Sampai pada waktu itu, aku menerima kabar kalau pacarku itu masuk rumah sakit karena masalah itu. Ia frustasi dan akhirnya mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Ia terpeleset di sebuah tikungan karena mungkin otaknya itu sedang tidak karuan. Akhirnya aku iba melihatnya. Aku putuskan untuk masih tetap bersamanya sampai ia sembuh.
Ia mengajakku tunangan. Katanya sih untuk pengikat. Aku mengiyakan dengan syarat, aku tak ingin terlalu dekat seperti kebanyakan orang disana. Yang harus berdua-duaan setiap saat.
To be continue…. Hehe…

Senin, 14 November 2011

kamu yang mana ?


KOLERIS
Kalau mengerjakan sesuatu maka seorang Kolerik akan menyelesaikannya dengan caranya sendiri (My Way). Dia sungguh kreatif, bahkan kalau ada manual sekalipun maka dia tidak suka menuruti manual tersebut. Pokoknya sikolerik akan berusaha menyelesaikan pekerjaan itu sampai tuntas. Syaratnya harus dengan cara yang diyakininya benar bukan dengan cara orang lain. Hambatan apapun akan diterjangnya guna mencapai tujuan. Kolerik ini juga senang ngatur orang lain, tetapi dia sendiri tidak suka kalau dipaksa-paksa untuk melakukan sesuatu.
intinya : yaitu keras, galak, perpendirian kuat, cenderung bossy, suka memerintah, suka mengkontrol, kebutuhan kekuasaannya tinggi, suka mengatur, suka kesel kalo orang atau keadaan tidak terkontrol, kadang pemarah, cenderung bossy.
KORELIS yaitu tipe orang yang berjiwa pemimpin… memegang kendali di segala hal!

SANGUINIS
Bagaimana seorang Sanguin harus menyelesaikan pekerjaannya ? Ini susahnya. Orang Sanguin ini orangnya gampangan. Cara dia menyelesaikan pekerjaannya adalah dengan cara yang dianggapnya paling menyenangkan (Fun Away). Bagi dia kalau pekerjaan itu menyenangkan baginya maka dia bisa-bisa tidak ingat waktu. Sayangnya, sang Sanguin ini terkesan bertele-tele karena ingin selalu mencari celah-celah pekerjaan yang bagi dia bisa menimbulkan kegembiraan. Si Sanguin ini juga suka menunda-nunda pekerjaan bahkan kerap melupakan apa yang sudah dikerjakannya. Dia bekerja tanpa rencana dan cenderung menganggap remeh apapun yang dilakukannya. Sikapnya cenderung seenaknya. Kalau ada keramaian maka orang Sanguin selalu tampil paling menonjol, entah dari segi pakaiannya, teriakannya yang menarik peoris tanesia.  Sikapnya cenderung seenaknya. Kalau ada keramaian maka orang Sanguin selalu tampil paling menonjol, entah dari segi pakaiannya, teriakannya yang menarik perhatian orang atau tingkah lakunya yang nyentrik. Si sanguin ini ibarat seorang anak yang terkurung dalam tubuh orang dewasa.
Intinya : yaitu suka berbicara, senang tampil, suka diperhatikan, menyenangkan, kadang pelupa, heboh, pada dasarnya terbuka dan gembira. suka hura hura, pesta, keramaian, ngobrol, happy happy, jalan jalan, kurang terkoordinir..
SANGUINIS adalah tipe orang yang selalu dominan berbicara.. selalu ngungkapin apa yg ada di benak dia saat itu juga (orang Betawi bilang sih nyablak!) dan cheerful, periang, pokoke ga bisa diem deh..


MELANKOLIS
Nah ini dia tipe pekerja teratur. Senangnya rapi dan sistematis. Dalam menyelesaikan pekerjaan maka seorang yang berwatak melankolik akan memilih cara terbaik (best way), bagaimanapun caranya. Kalau ada manualnya maka dia akan mengikuti manual itu 100 % benar. Dia bekerja sangat tekun dan serius, dan selalu menuntut hal yang sama terhadap anak buah atau rekan-rekannya. Kalau ada yang melenceng sedikit dari kemauannya maka dia akan murung dan muram sepanjang hari. Orang Melankolik ini cepat sekali tersentuh perasaannya. Hidupnya teratur dan kalau berpakaian selalu selalu rapi dan charming.
Intinya : sukanya rapi rapi, segala sesuatu teratur, mesti pada tempatnya, mesti pada waktunya, suka yang detail.
MELANKOLIS adalah tipe orang yang lebih melihat segala sesuatunya dari ‘perasaan’.. lebih banyak ‘Feeling’ daripada ‘Thinking’.. apa aja pake perasaan.. orangnya selalu ga enakan.. selalu mikirin keadaan sekitar, dan mikirin orang lain.. jadi jiwa sosialnya gede banget!

PLEGMATIS
Nah ini dia manusia yang paling menyenangkan bagi semua orang. Orang plegmatis ini nyaris tidak pernah marah. Senyumnya tulus. Hanya saja seperti orang yang tidak punya ambisi. Orangnya damai, dan tidak suka bertengkar. Dia juga pemalu dan cenderung tidak ingin menonjol di keramaian. Seorang plegmatis akan menerima pendapat orang lain apapun itu, meski belum tentu dia mengerjakannya. Kalau melakukan pekerjaan maka orang plegmatis akan melakukannya dengan cara yang paling mudah (easy way). Kadang-kadang dengan menempuh jalan pintas.
 Intinya : Tipe ini cenderung lebih suka mendengar, pengamat, tidak suka keramaian, hebat dalam mendamaikan, suka ketenangan, lambang kedamaian. plegmatis, kadang cenderung kelihatan pemalas dan kurang motivasi. kekuatannya adalah pendengar yang baik, sabar, pintar mendamaikan orang. plegmatis ini cinta kedamaian, tenang, tidak suka konfrontasi. kelemahannya adalah kadang pemalas, kurang termotivasi dan keras kepala dalam diam
PLEGMATIS yaitu tipe orang yang misterius, susah ditebak atau lebih tepatnya ga bisa ditebak..

Rabu, 02 November 2011

الهمة العالية

أمطري لؤلؤاً جبال سرنديب وفيضي آباز تكرور تبـرا

أنا إن عشت لست اعدم قوتاًوإذا مت لست اعدم قبـراً

همتي همة الملوك ونفسـي نفس حر ترى المذلة كفـراً
وإذا ما قنعت بالقوت عمري فلماذا أزور زيـداً وعمـراً

TENTANG CINTA

Engkau durhaka kepada Allah,
dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya.
Ini adalah suatu kemustahilan.
Apabila benar engkau mencintai-Nya,
pastilah engkau taati semua perintah-Nya.
Sesungguhnya orang menaruh cinta,
Tentulah bersedia mentaati perintah orang yang dicintainya.
Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu,
setiap saat dan tak ada rasa syukur,
yang engkau panjatkan kepada-Nya.

Selasa, 01 November 2011


In my honesty


Semua berjalan dengan sangat baik. Tentang kuliahku, teman-teman, ataupun dengan para dosenku. Bahkan aku sekarang bertemu dengan dosen-dosen yang membuatku bangga. Mereka semua membuat perubahan sedikit demi sedikit di dalam kehidupanku. Terutama pada bidang akademikku. Lumayan…
Saat aku ini berada jauh dari rumah. Tepatnya, aku melanjutkan kuliahku tidak di mana aku bertempat tinggal. Aku berada di jawa tengah, dan menggambil kuliah jurusan Islamic study. Hingga saat ini aku masih merasa baik-baik saja menjalani kehidupanku. Tak ada banyak waktu yang tersita dengan tugas-tugas kuliahku. Karena untuk sejauh ini, aku masih di beri tugas membuat paper untuk kemudian di presentasikan. Memang sih, awalnya aku sempat kaget dengan aktifiasku yang sekarang ini. Karena mungkin dulu, aku tidak terbiasa mengerjakan tugas-tugas seperti yang ku lakukan sekarang ini. Tak apalah… buatku ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.
Tentang kerinduanku…
Aku masih saja merindukan kampung halamanku. Jika aku punya waktu luang, aku sempatkan untuk menghubungi keluargaku. Aku sangat merindukan mereka. Apalagi dengan adikku yang paling lucu dan menggemaskan. Dia adik terakhirku, umurnya juga masih 2 tahun. Ya Rabb… sampaikan rinduku ini melalui hembusan angin mu…
Lalu, tentang rinduku pada seseorang…
Untuk setiap harinya, aku sempat tak menyadari kalau ternyata tiap saat aku merindukannya. Entah mengapa, ia sangat berarti untukku. Lebih tepatnya sangat bersejarah untuk tiap-tiap hariku. Salahkah aku ?
Terkadang, bayang-bayang yang penuh kenangan mengusikku. Ia hadir untuk mengingatkan kembali yang telah lalu. Menemani hari-hariku yang sepi sendiri. Membuatku untuk tetap merindukannya…
Lalu, tentang keyakinan hatiku…
Kadang kala aku ragu dengan semua ini. Karena semua ini belum menjadi sesuatu yang pasti. Apalagi saat aku ingat sesuatu, tentang perkataannya yang masih ragu juga dengan semua ini. Karena itulah aku menjadi ragu. Tapi keraguanku, tidak menjadikan aku putus asa untuk tetap berdoa, agar Allah meyakinkanku pada pilihan terbaikNya. Rabby… yakinkan aku pada pilihan terbaik Mu..
Harapanku…
Semoga kau tetap menjadi dirimu yang dulu aku kenal. Menjaga diri dan hati. Tidak pernah ada dusta dengan semua yang kau ucapkan. Tetaplah menjadi yang aku harapkan, yang aku banggakan dan yang aku impikan. Aku memang tak mengenal siapa dirimu. Tentang hatimu yang sampai sekarang entah mungkin hanya untuk dendam kau melakukan ini semua. Jangan pernah berdusta. Aku tak ingin ada air mata di balik ini semua. Jika memang hati mu ragu, tinggalkan ! aku tak ingin menjadi benalu untuk hari-harimu. Aku tak ingin merenggut kebahagiaan mu. Berbahagialah ! kau pantas untuk tersenyum. Kau pantas untuk hidup bahagia.

Memories are all we really own


Ini awal kisahku…
        Berawal dari sebuah scenario-Nya. Entah maksud apa yang ingin ia sampaikan padaku. Aku hanya seorang pemain biasa. Seorang bocah lugu, yang tak mengerti hakikat seorang pemain naskah. Sembarang dan asal-asalan.
        Aku mengenalnya setahun yang lalu. Entah bagaimana awalnya yang akhirnya aku bisa mengenal sosoknya. Jujur saja, aku mengagumi sosoknya ! padahal awalnya aku sangat membenci sifatnya. Dia yang tak pernah mendapat nilai A di hadapan orang lain. Semua tentangnya yang sangat tidak layak untuk dikenal. Namun tentu saja waktu tak pernah terhenti. Ia terus berputar, membawaku pada peran yang tak mungkin selamanya aku lupakan… Sebenarnya, aku sudah cukup lama mengenalnya. Jauh sebelum aku benar-benar mengenalnya. Mengenalnya dengan sejuta catatan kelam tentang dirinya. Wal hasil ? aku pun ikut membencinya. Biarlah...
        Berjalanya waktu, akhirnya aku mengenal sosoknya lebih jauh. Bahkan sangat jauh. Tak pernah ada niat untuk mengenalnya, namun memang hanya sosoknya yang saat itu hadir di dalam hidupku. Sosoknya hadir seperti apa yang aku impikan, namun perasaan ini pun baru aku sadari setelah lama aku mengenalnya, dan ternyata dia adalah orang yang aku benci.
        Tapi waktu itu, aku cuma punya dendam ! Aku hanya ingin balas dendam atas semua kekejamannya. Aku benci ! sumpah serapah, caci makian, dan seluruh dendam kesumat tlah ku tumpahkan untuknya. Tapi balasannya ? dia bersikap santai. “setiap yang aku lakukan, pasti karena ada sebabnya!” hanya ini yang ia katakan. Singkat dan cukup mengena. Namun, lagi-lagi tetap saja aku tak mudah luluh secepat itu. Bongkahan dendam masih tetap tertutup dengan baik yang mungkin suatu saat akan pecah, bersamaan dengan hancur hatinya. Namun scenario tidak mengizinkan aku berbuat sekejam itu. Meskipun dendam masih membara, karena sikapnya yang santai akhirnya, membuatku untuk tak semudah itu memecahkan bongkahan dendamku padanya.
        Lalu tanpa ku sadari, scenario yang panjang telah berkisah tentang ‘aku’. Hingga saat aku mulai mengaguminya. Aku mulai menyadari kalau ternyata dia yang ada dalam impianku… dia yang ada dalam cita-citaku…
God, I proud him, so much !
           Namun ternyata semua yang kita bayangkan indah tak mesti harus menjadi kenyataan. Kali ini aku harus merasakan kecewa, terluka, karena rasaku sendiri. Karena ternyata, ia berbaik hati padaku hanya untuk mencampakkanku karena caci makian serta sumpah serapah yang dulu aku lakukan padanya. Ternyata ia hanya ingin balas dendam atas semua yang pernah aku lakukan padanya. Ya tuhan… aku terluka…
        Untuk saat itu aku berfikir, aku akan benar-benar melupakannya. Aku telah berharap pada sesuatu yang semu. pada sesuatu yang bisa pergi, menyakiti kapan saja ia mau, tanpa ingin tahu bagaimana perasaan sesuatu yang telah berharap padanya. Rabby… maafkan aku…
“Berharaplah pada sesuatu yang pasti, dan hanya Allah-lah tempat sandaran di setiap keadaan.”