Selasa, 01 November 2011

Memories are all we really own


Ini awal kisahku…
        Berawal dari sebuah scenario-Nya. Entah maksud apa yang ingin ia sampaikan padaku. Aku hanya seorang pemain biasa. Seorang bocah lugu, yang tak mengerti hakikat seorang pemain naskah. Sembarang dan asal-asalan.
        Aku mengenalnya setahun yang lalu. Entah bagaimana awalnya yang akhirnya aku bisa mengenal sosoknya. Jujur saja, aku mengagumi sosoknya ! padahal awalnya aku sangat membenci sifatnya. Dia yang tak pernah mendapat nilai A di hadapan orang lain. Semua tentangnya yang sangat tidak layak untuk dikenal. Namun tentu saja waktu tak pernah terhenti. Ia terus berputar, membawaku pada peran yang tak mungkin selamanya aku lupakan… Sebenarnya, aku sudah cukup lama mengenalnya. Jauh sebelum aku benar-benar mengenalnya. Mengenalnya dengan sejuta catatan kelam tentang dirinya. Wal hasil ? aku pun ikut membencinya. Biarlah...
        Berjalanya waktu, akhirnya aku mengenal sosoknya lebih jauh. Bahkan sangat jauh. Tak pernah ada niat untuk mengenalnya, namun memang hanya sosoknya yang saat itu hadir di dalam hidupku. Sosoknya hadir seperti apa yang aku impikan, namun perasaan ini pun baru aku sadari setelah lama aku mengenalnya, dan ternyata dia adalah orang yang aku benci.
        Tapi waktu itu, aku cuma punya dendam ! Aku hanya ingin balas dendam atas semua kekejamannya. Aku benci ! sumpah serapah, caci makian, dan seluruh dendam kesumat tlah ku tumpahkan untuknya. Tapi balasannya ? dia bersikap santai. “setiap yang aku lakukan, pasti karena ada sebabnya!” hanya ini yang ia katakan. Singkat dan cukup mengena. Namun, lagi-lagi tetap saja aku tak mudah luluh secepat itu. Bongkahan dendam masih tetap tertutup dengan baik yang mungkin suatu saat akan pecah, bersamaan dengan hancur hatinya. Namun scenario tidak mengizinkan aku berbuat sekejam itu. Meskipun dendam masih membara, karena sikapnya yang santai akhirnya, membuatku untuk tak semudah itu memecahkan bongkahan dendamku padanya.
        Lalu tanpa ku sadari, scenario yang panjang telah berkisah tentang ‘aku’. Hingga saat aku mulai mengaguminya. Aku mulai menyadari kalau ternyata dia yang ada dalam impianku… dia yang ada dalam cita-citaku…
God, I proud him, so much !
           Namun ternyata semua yang kita bayangkan indah tak mesti harus menjadi kenyataan. Kali ini aku harus merasakan kecewa, terluka, karena rasaku sendiri. Karena ternyata, ia berbaik hati padaku hanya untuk mencampakkanku karena caci makian serta sumpah serapah yang dulu aku lakukan padanya. Ternyata ia hanya ingin balas dendam atas semua yang pernah aku lakukan padanya. Ya tuhan… aku terluka…
        Untuk saat itu aku berfikir, aku akan benar-benar melupakannya. Aku telah berharap pada sesuatu yang semu. pada sesuatu yang bisa pergi, menyakiti kapan saja ia mau, tanpa ingin tahu bagaimana perasaan sesuatu yang telah berharap padanya. Rabby… maafkan aku…
“Berharaplah pada sesuatu yang pasti, dan hanya Allah-lah tempat sandaran di setiap keadaan.”

Tidak ada komentar: