Ruang-ruang hatiku bertemu pada satu tumpuan. Menjadi rimpunan seni yang siap untuk di jadikan bahan explorasi. Gemerlap awan tak menyurutkan ku untuk tetap menari di atas segala problema. Aku adalah aku. Bukan orang lain.
Senja itu, aku bersantai ria di teras depan rumah ku. Dengan bertemankan sebuah majalah yang sebenarnya sedari tadi hanya aku buka-buka saja tanpa aku seriusi isinya. Aku seorang anak gadis yang baru berusia 17 tahun. Ayahku seorang tokoh ternama di lingkungan rumahku. Tepatnya mungkin, sosoknya yang di segani dan di hormati oleh para tetangganya. Aku tinggal bersama orang tuaku, di daerah Kalimantan barat. Selama ini aku bergaul dengan teman-teman sekolah ku. Kerasnya dunia luar sangat aku rasakan, tapi itu semua belum menjadikan pertimbangan dalam diriku untuk berubah menjadi lebih baik.
Pada suatu kesempatan, kebiasaan dari keluarga ku adalah nobar pada akhir pekan. Sebenarnya jika aku boleh memilih, lebih baik aku tidur saja atau baca buku-buku novelku yang jauh lebih menyenangkan. Padahal kalau di pikir-pikir novel yang aku punya sudah berulang-ulang aku baca. Sampai-sampai aku hafal semua percakapan yang ada di dalamnya. Tapi itu lebih baik dari pada nobar yang terkesan kolot itu. Karena nanti ayah akan mengeluarkan instruksi-instruksi baru yang harus di taati. Membosankan!
Aku masih tak percaya atas instrument ayah tadi malam. Air mataku tak henti-hentinya membasahi kedua pipiku. Akan banyak sekali kenangan-kenangan yang harus aku tinggalkan. Tentang persahabatan, tentang cinta yang telah mengukir kisah yang sangat indah.
“Ayah, apa gak bisa kita tetap tinggal disini ?” ucapku pada ayah suatu hari. “Gak bisa, ini tugas ayah yang sangat penting.” Jawabnya. Aku sangat berharap ada perubahan atas keputusan ayah beberapa waktu yang lalu. “Tapi yah, banyak kenangan yang bakal aku tinggalin disini.” Ucap ku lirih. Mungkin memelas juga. Ayah menatapku. “Mungkin bagimu kenangan disini sangat berarti, sangat indah. Tapi siapa tahu kenangan disana akan jauh lebih indah atau mungkin menjadi yang terindah untuk perjalanan hidupmu.” Ucap ayah meyakinkanku.
Sejak saat ayah memutuskan akan pindah ke kota bogor, aku selalu merengek pada ayah agar ayah mau merubah keputusannya itu. Dan anehnya ayah juga tidak marah dengan rengekan-rengekanku. Karena biasanya ayah tak pernah mau mendengarkan ocehan-ocehan yang tidak penting dari siapa pun. Termasuk anaknya sendiri. Itulah ayah, beliau hanya bersedia melayani orang yang ingin berkata yang mendatangkan manfaat. Entah ada apa, untuk kali ini ayah tidak marah. Batin ku, mungkin karena ayah juga merasa begitu banyak sekali kenangan yang ada disini.
Ku tatap ruang jalan yang terselimuti kabut. Pikiranku melayang jauh. Kenangan-kenangan itu terlintas bergantian. Kakiku mematung. Seperti sebuah isyarat, aku yang tak di izinkan untuk pergi meninggalkan kenangan yang ku punya. Pagi ini aku harus pergi. Karena ayah telah di tunggu oleh tugas-tugasnya. Sehari sebelum keberangkatan ku ini, aku telah berpamitan dengan sahabat-sahabatku. Dengan orang-orang yang pernah ada di hatiku.
Setelah sampainya aku di rumah baru, aku seperti orang yang hilang arah. Untuk tiap harinya aku menangis. Mengunci diri seorang diri di dalam kamar. Lagi-lagi ayah tak marah dengan sikapku yang seperti ini. Biasanya ayah akan cepat mengeluarkan semua nasihatnya, jika anaknya melakukan suatu kesalahan. Beliau malah kerap kali mengantarkan sarapan atau makan siang dan malam ke kamarku. Sepertinya ayah sangat mengerti apa yang aku rasakan. Apalagi ketika ayah menawarkan sekolah mana yang akan aku tempati nanti, aku malah bilang gak mau sekolah. Tapi ayah tak marah. Maafkan aku yah…
Teringat nasehat-nasehat temanku. “Meski jarak memisahkan, tapi kita tetap teman” ucap salah seorang sahabatku. Dan masih banyak lagi motivasi-motivasi yang mereka berikan pada saat aku mengadukan akan kegelisahan hatiku di rumah baruku. Akhirnya aku tersenyum kembali pada dunia. Setelah sebelumnya aku melihatnya berwarna kelabu. Ayah dan Ibu sangat bahagia karena aku bisa tersenyum kembali. Melakukan tugas-tugas yang biasa aku lakukan. Dan aku akan bersekolah kembali.
Adaptasi untukku bukan hal yang sulit. Ini adalah untuk pertama kalinya aku pindah ke sekolah baruku. Tak ada yang berkesan. Semuanya seperti waktu dulu aku pertama kali masuk sekolah.
Di sore itu, teman yang baru saja aku dapat tadi pagi di sekolah, dating ke rumahku. Karena ternyata rumah kami berdekatan. Hanya berjarak 5 rumah dari rumahku. Aku yang sedang asik membaca novel baruku karena pada saat aku sedikit prustasi ibu membelikan aku novel-novel. Katanya sih biar aku gak terlalu bosan. Aku langsung menghampiri dan menjamunya. Setelah aku bertanya karena apa ia ke rumahku, ternyata ia hanya ingin silaturrahim saja. Seperti ada chemistry antara aku dan dia. Awal aku melihatnya sangat aneh, karena pakaian yang ia pakai menurutkku terlalu kolot. Tapi akhlaknya yang akhirnya dengan sendirinya aku nyaman berada di sampingnya. Menjadi teman dekatnya….
Sampai pada suatu saat, aku sedang mengerjakan tugas sekolah di rumah temanku itu. Tak sengaja aku membuka dan membaca buku milliknya yang berjudul “Orang-Orang yang Mendapat Hidayah-Nya.” Ada rasa yang berbeda saat itu. Aku merasakan ketenangan yang begitu amat sangat indah. Sampai-sampai aku menitikan air mata. “Kenapa?” Tanya temanku khawatir melihatku menitikan air mata. “Gak apa-apa.” Jawabku malu. Ia seakan mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya. Ia melihat ada sebuah buku yang sedang aku genggam. “Ooohh…” katanya sambil senyum-senyum. Aku hanya memandanginya. Ia begitu anggun dengan penutup kepalanya. Dengan baju panjangnya dan dengan tutur katanya yang sopan di dengar. Sepertinya aku jatuh cinta dengan akhlaknya.
Latar belakang pergaulanku bebas. Meskipun tidak bebas dalam artian miring. Karena ayah tidak akan diam saja jika anaknya melakukan hal-hal yang menyalahi norma-norma agama. Aku sangat jauh jika di bandingkan dengan temanku yang satu ini. Di sekolah aku mendapat undangan bedah buku oleh rohis yang ada di sekolahku. Dan ternyata belakangan aku baru tahu teman ku itu adalah anggota kerohisan putri. Awalnya aku ragu ingin menghadiri majelis itu, tapi temanku itu memaksa mengajakku ke acara itu. Akhirnya aku datang. Tanpa penutup kepala aku kenakan. Sepertinya aku belum ada fell untuk mengenakannya. Aku benar-benar mendengarkan, menghayati apa yang di sampaikan waktu itu. Kalau gak salah bertemakan “Wanita yang di Rindukan Syurga”
Akhirnya Allah menganugerahkan HidayahNya untukku. Aku memutuskan untuk berjilbab. Keputusan penting yang membutuhkan proses panjang. Keluarga dan teman-teman agak terkejut dengan keputusanku. Apalagi keluargaku, mereka memintaku agar berfikir ulang kembali akan keputusanku. Tapi ini keputusan final ku. Dan takkan berubah lagi. Lambat laun keluargaku mengerti, setelah aku berbicara dengan cara baik-baik kepada mereka.
Tentang seseorang itu…
Ia telah menjadi kekasihku sejak aku pindah ke bogor. Aku sangat menyayanginya. Ketika aku memutuskan untuk berjilbab, posisiku waktu itu aku masih menjalani hubungan dengannya. Dan aku belum mengetahui tentang di larangnya pacaran di dalam islam. Aku masih belum percaya dengan hal itu. Aku bertanya kepada teman-teman rohisku di sekolah dan jawaban mereka memang tidak ada pacaran di dalam islam.
Rasanya berat sekali melepasnya pergi. Namun rasa cintaku pada Rabbku tlah mengalahkan rasa cintaku kepada dirinya. Aku harus pergi… aku berbicara baik-baik dengannya. Tentang semua alasan yang akhirnya aku harus pergi. Ia tak terima dengan keputusanku. Keluargaku pun tidak setuju. Sampai pada waktu itu, aku menerima kabar kalau pacarku itu masuk rumah sakit karena masalah itu. Ia frustasi dan akhirnya mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Ia terpeleset di sebuah tikungan karena mungkin otaknya itu sedang tidak karuan. Akhirnya aku iba melihatnya. Aku putuskan untuk masih tetap bersamanya sampai ia sembuh.
Ia mengajakku tunangan. Katanya sih untuk pengikat. Aku mengiyakan dengan syarat, aku tak ingin terlalu dekat seperti kebanyakan orang disana. Yang harus berdua-duaan setiap saat.
To be continue…. Hehe…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar